Sandiwara, canda, tawa, duka, bahagia, luka, tangis, cinta, benci, kecewa, senang, gembira, jujur, dusta, kenangan, masa depan, baik, buruk dan semuanya ada dihidup gue.
Bagi gue hidup ini kaya film, semuanya ada.
Pemerannya mempunyai karakter masing-masing.
Keunikannya dan kelakuannya berbeda-beda.
Dari cara berpakaiannya, cara masang celana, cara masang baju, sampai cara masang kaus kaki.
Gue gak pernah ngerti sama diri gue sendiri kenapa terkadang sebuah hal yang (kayaknya) kecil bisa begitu jadi besar buat gue. Bisa ngebuat gue kecewa, dan gue gak pernah ngerti kenapa kekecewaan ini bisa berubah seperti kanker yang menyebar dan menggerogoti perasaan gue sendiri… lama-lama ngebunuh dari dalam… dan mati. Gue gak pernah mengerti bagaimana harus mensiasati ini. Gue gak pernah ngerti kenapa buat gue, what has done yah done.. the damage has been done, and nothing we can do about it. There is absolutely nothing we can do about it. Kenapa? Kenapa gue gak bisa membuat semua ini seolah gak nampak, dan jalan terus. Kenapa? Kenapa? Kenapa gue harus membuat semua hal sempurna? Mungkin ini kutukan sekaligus berkah menjadi seorang aneh… atau menjadi orang yang tak pernah puas? @radityadika
Peranan gue dan mereka gak akan seindah FILM yang dibuat oleh sutradara.
Berbeda jauh dengan FILM hidup ini, karna memang kita mengalaminya didunia nyata bukan hasil rekayasa.
Kaya gue yang suka sama musim hujan.
Nah di FILM, hujan itu bisa ngebuat pemeran-pemerannya merasakan sebuah keromantisan, entah itu sesama lelaki, bahkan apalagi kalau antara lelaki dan perempuan.
Beda banget sama kenyataan dihidup gue.
Gue merencanakan sesuatu yang bisa ngebuat gue bisa dua-duaan sama "cewe", gue rencanain sematang-matangnya, bahkan sebelum musim hujan.
Pas udah musim hujan, ya rencana itu pun terlaksana, tapi bukannya keromantisan yang sering gue dapat, melainkan pertengkaran dan perkelahian.
Ya meskipun pernah sih gue dapet momen romantis pas lagi hujan-hujanan di motor, trus dia meluk gue.
Tapi ini beda banget kaya di FILM yang udah diatur sama naskah dan sutradara.
Tapi ya gue bersyukur, gue masih bisa ngerasaain hujan.
Karna hujan itu pembawa kehidupan.
Gue suka hujan kaya gue suka main gitar.
Hujan itu latar belakang dari FILM hidup gue.
Gue liatin hujan dijendela rumah, dengan gitar yang gue pegang di tangan sebelah kiri.
Satu demi satu titikannya membasahi tanah.
Gue petik gitar dan bernyanyi dengan suara sumbang, dan itu sebuah kepuasan buat gue.
Gue punya FILM tentang gue sendiri, di hidup gue.
Hidup gue itu Film gue.
"Pegang tanganku, jangan lepaskan hingga hujan reda
Pegang pundakku, tarik dan lihat senyumku padamu
Pegang dadaku, pejamkan matamu, dan rasakan jantungku mengikuti aliran darahmu
Pegang gitarku, dan biarkan ia bernyanyi bersama kita"
We definitely have moved on with our lives, and that’s a very good thing to know.